Merangin | Fokus Info News – Seorang warga Desa Sungai Tebal, Zailinda Sari, akhirnya angkat bicara mengenai persoalan rumah tangganya dengan mantan suaminya, H, yang telah berakhir dengan status talak tiga setelah membina rumah tangga selama kurang lebih tujuh tahun.
Kepada Fokus Info News, Zailinda mengaku memilih membuka persoalan tersebut karena merasa hak atas harta yang selama ini diperjuangkannya kini justru dipertanyakan.
Menurut Zailinda, puncak persoalan bermula setelah dirinya mengetahui Haidar berencana membeli sebidang tanah senilai sekitar Rp900 juta.
“Saya mempertanyakan hak saya karena beberapa waktu lalu saya dengar dia mau beli tanah. Saya tanya dari mana uangnya. Saya bilang, apa dia tidak malu menggunakan uang saya untuk keinginannya itu. Dia jawab kalau saya setuju. Padahal seharusnya dia bertanya dulu kepada saya,” ungkap Zailinda.
Ia mengatakan, tidak lama kemudian H juga berencana merenovasi rumah dengan anggaran yang menurutnya mencapai sekitar Rp500 juta.
“Saya bilang waktu itu, mau jual ginjal siapa untuk renovasi sebesar itu. Dari situ saya mulai sadar, pelan-pelan hak saya dipindahkan untuk kepentingannya sendiri,” ujarnya.
Zailinda mengungkapkan, salah satu persoalan yang kini menjadi perhatiannya adalah sebuah rumah di Desa Sungai Lalang yang dibeli pada tahun 2024.
Ia mengklaim rumah tersebut dibeli dari hasil usaha dagang dan kebun miliknya, namun kini ditempati oleh mantan suaminya.
“Tanah dan bangunan itu hasil kerja saya sendiri. Sertifikatnya masih saya pegang. Tapi sekarang rumah itu ditempati mantan suami saya. Ketika saya mempertanyakan hak saya, malah saya ditanya balik, ‘Hak yang mana?’.”
Menurut Zailinda, komunikasi terakhir dengan H berlangsung saat dirinya diundang oleh Pemerintah Desa Sungai Lalang untuk melakukan klarifikasi atas persoalan tersebut.
Zailinda mengaku selama menjalani rumah tangga dirinya tidak pernah mempermasalahkan penggunaan uang hasil usahanya demi kepentingan keluarga.
Namun seiring berjalannya waktu, ia merasa seluruh aset yang berasal dari hasil kerja kerasnya perlahan dianggap sebagai harta bersama.
“Ini hak saya. Ini uang saya. Ini hasil kebun saya. Tapi setelah dia hadir dalam hidup saya, semuanya ingin dijadikan harta bersama. Setelah itu saya melihat dia mulai menguasai keuangan.”
Ia mengaku selama bertahun-tahun mengandalkan usaha dagang dan hasil kebun hingga memiliki aset bernilai miliaran rupiah. Meski demikian, ia mengaku kini justru harus bekerja di tempat usaha milik anaknya.
“Terus terang saya punya aset miliaran rupiah, tapi sekarang saya sedih karena sampai harus bekerja di tempat anak saya sendiri.”
Dalam wawancara tersebut, Zailinda juga mengaku selama masih menjadi suami istri, dirinya banyak membantu kebutuhan keluarga H.
Ia mengklaim pernah memberikan modal ratusan juta rupiah untuk membuka toko, namun menurutnya usaha tersebut tidak pernah memberikan laporan keuangan yang jelas.
Selain itu, ia juga mengaku hasil kebun yang dikelola H selama ini tidak pernah disampaikan secara transparan.
“Saya sebenarnya selalu menutup aib suami saya. Saya modali buka toko ratusan juta supaya dia terlihat berhasil. Tapi uangnya entah ke mana. Hasil kebun yang dia kelola juga tidak pernah transparan kepada saya.”
Tak hanya itu, Zailinda mengatakan dirinya turut membiayai pendidikan anak Haidar sejak SMP hingga SMA dan sekarang ada yang kuliah di Bandung jurusan penerbangan.
“Anaknya saya sekolahkan seperti anak sultan. Bahkan BPJS bapaknya setiap bulan saya yang kirim.”
Menurutnya, setiap kali panen kopi, ia juga rutin mengirim sembako dan uang kepada orang tua H.
“Saya lakukan itu supaya derajat dia terangkat di mata anak-anak dan keluarga besar saya.”
Zailinda juga mengungkapkan bahwa menjelang Ramadan lalu dirinya sempat menyarankan agar hasil panen kopi digunakan untuk memenuhi kebutuhan puasa dan Idulfitri.
Namun menurut pengakuannya, uang hasil penjualan kopi tersebut ternyata sudah habis.
“Saya baru tahu uangnya sudah tidak ada. Selama dia mengelola uang saya, tidak pernah ada keterbukaan.”
Ia bahkan mengklaim terdapat aset dan hasil usaha lain yang menurutnya tidak pernah dipertanggungjawabkan secara jelas.
Kini Zailinda berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara adil. Ia menegaskan bahwa rumah di Sungai Lalang merupakan hasil jerih payahnya sendiri.
“Saya hanya meminta hak saya dikembalikan. Saya juga warga Sungai Lalang dan saya minta keadilan. Kalau memang tidak percaya dengan apa yang saya sampaikan, silakan hadirkan dia agar semuanya terbuka.”
Ia juga menilai penghasilan H selama bekerja beberapa tahun terakhir tidak sebanding dengan pengeluaran yang selama ini telah ia keluarkan untuk membangun ekonomi keluarga.
“Kalau dihitung penghasilannya empat tahun bekerja dengan upah Rp200 ribu per hari, tentu tidak sebanding dengan uang yang saya keluarkan selama ini.”
Hingga berita ini diterbitkan, Fokus Info News masih berupaya menghubungi H untuk meminta tanggapan atas seluruh pernyataan yang disampaikan Zailinda Sari. Redaksi akan memuat hak jawab yang bersangkutan sebagai bentuk keberimbangan pemberitaan sesuai Kode Etik Jurnalistik (*)
Reporter : TopanBohemian
